Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

Amber & Blue and the Hunt for DNA

Oleh: Tim Kiyota Books•

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Bayangkan dua anak kembar identik yang protes kepada orang yang sedang menggambar mereka.

“Lihat hidung yang kamu kasih ke aku!” seru salah satunya. Yang lain ikut mengeluh soal rambut dan bentuk mata.

Begitulah cara buku ini membuka ceritanya, langsung memecah dinding antara pembaca, tokoh, dan sang penulis. Lucu, jahil, dan sama sekali tidak terasa seperti buku pelajaran.

Amber dan Blue adalah si kembar yang kemudian dikecilkan sampai ukuran mikroskopis. Lebih kecil dari bulu mata, bahkan.

Di perjalanan itu mereka bertemu Chirp, anak ayam mungil yang menempel terus dan akhirnya jadi tour guide paling menggemaskan sepanjang petualangan.

Bertiga, mereka masuk ke dalam sebuah sel manusia. Bukan lewat diagram di papan tulis, tapi benar-benar berjalan di antara organel yang menjulang seperti gedung.

Ada glob berwarna merah muda yang mereka kira es krim stroberi. Ada repressor yang keras kepala, ribosom yang masih canggung karena belum berpengalaman, dan protein serbaguna yang sibuk mondar-mandir.

Setiap molekul punya karakter. Setiap struktur sel punya suara dan lelucon sendiri.

Claudia Flandoli, yang berlatar belakang biolog, punya cara unik menjelaskan hal rumit: dia melucu dulu, baru menyuapi informasi. Deretan angka, istilah panjang, dan konsep pewarisan sifat tetap ada di dalamnya.

Bedanya, semua itu datang bersama panel komik yang bikin anak ingin membalik halaman berikutnya.

Ada pula bagian interaktif, seperti kotak kosong yang mengajak pembaca menggambar self-portrait sendiri. Sebuah cara halus untuk bertanya: kenapa wajah kita seperti ini?

Perjalanan Amber dan Blue perlahan menjawab pertanyaan itu, meski jawabannya jauh lebih panjang dan lebih seru dari yang mereka duga di awal.

Apa yang bisa dibawa pulang si kecil?

Buku ini menanamkan gagasan bahwa sains bukan sesuatu yang menakutkan. Rasa ingin tahu boleh berjalan berdampingan dengan tawa.

Anak belajar bahwa tubuh mereka menyimpan instruksi kecil yang menentukan warna mata, tekstur rambut, sampai bentuk hidung. Pemahaman ini pelan-pelan menumbuhkan penerimaan diri.

Kembar identik pun tetap merasa berbeda satu sama lain, dan itu wajar.

Untuk anak usia menengah sampai remaja, format graphic novel begini jadi jembatan yang efektif menuju pelajaran biologi di sekolah. Cocok pula untuk anak yang biasanya menghindar dari buku non-fiksi tebal.

Parents bisa menjadikannya bahan diskusi ringan di rumah, mulai dari “mata kamu mirip siapa?” sampai obrolan tentang gen dan keturunan.

Sains yang disajikan dengan humor ternyata jauh lebih mudah menempel di ingatan.