Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

All About Feelings

Oleh: Tim Kiyota Books•

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Pernah melihat si kecil menangis, tapi saat ditanya kenapa, dia hanya menggeleng bingung? Buku ini lahir persis untuk momen-momen seperti itu.

Halaman pembukanya mengajak anak menyadari satu hal sederhana: semua orang punya perasaan. Tidak ada yang aneh, tidak ada yang salah.

Lalu pembaca diajak mengenali body messages, sinyal tubuh yang muncul sebelum kata-kata sempat keluar. Perut mules, wajah panas, jantung berdegup kencang, semuanya diberi nama dan penjelasan.

Ada satu spread favorit banyak orang tua berjudul “Why, why, why?”. Di sana, sekelas anak-anak bersama gurunya saling bercerita: ada yang sedih karena kakeknya sakit, ada yang cemburu karena gambar temannya lebih bagus, ada yang marah sampai ingin menendang meja.

Anak jadi paham bahwa perasaan selalu punya sebab, dan menyebut sebabnya adalah langkah pertama untuk meredakannya.

Bagian “Changing feelings” mengikuti satu hari penuh milik Lara. Dibangunkan adiknya dengan suara dinosaurus, sarapan pancake buatan ayah, jatuh dan lecet di jalan menuju taman, sampai akhirnya berani meluncur sendiri dari perosotan tinggi.

Pesannya jelas: perasaan bergerak. Anak tidak akan terjebak selamanya di emosi yang tidak nyaman.

Yang membuat buku ini terasa jujur adalah halaman “Jumbled up feelings”. Anak diperkenalkan pada emosi campur aduk, senang sekaligus takut, bangga sekaligus malu, bahkan marah karena sebenarnya lapar.

Kalimat penutup halaman itu terasa melegakan: tidak apa-apa jika kamu belum bisa menjelaskan kenapa kamu merasa begitu.

Setelahnya, pembahasan bergeser ke keterampilan praktis. Cara memulai percakapan tentang perasaan, teknik take a moment untuk menenangkan diri, menghadapi rasa khawatir, membuat pilihan, hingga menolong teman dan keluarga yang sedang sedih.

Ilustrasi Mar Ferrero mengambil peran besar di sini. Ekspresi wajah dan bahasa tubuh digambar begitu akurat sehingga anak yang belum lancar membaca pun bisa “membaca” emosi lewat gambar.

Menutup buku, ada halaman khusus berisi catatan untuk orang dewasa, lengkap dengan aktivitas yang bisa dicoba di rumah.

Nilai terbesar yang ditawarkan adalah emotional literacy: kemampuan menamai perasaan sebelum meledak jadi tantrum. Anak belajar bahwa marah dan sedih bukan emosi terlarang, hanya butuh cara sehat untuk disalurkan.

Skenario-skenario di dalamnya juga melatih empati, karena anak diminta membayangkan posisi orang lain.

Cocok dijadikan bacaan bertahap untuk usia 5 tahun ke atas, dibaca ulang seiring pemahaman si kecil bertumbuh. Parents pun sering menemukan kosakata baru untuk menemani anak melewati hari-hari yang berat.