Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

Baby's First Skills

Oleh: Tim Kiyota Books•

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Ada satu pertanyaan yang hampir selalu muncul di kepala orang tua baru: apa yang sebenarnya sedang dipelajari bayi hari ini?

Buku panduan dari Miriam Stoppard ini menjawabnya bulan demi bulan, mulai dari hari pertama si kecil pulang dari rumah sakit sampai ia meniup lilin ulang tahun pertamanya.

Halaman-halamannya disusun seperti peta perjalanan. Ada bagian bernama Baby Skill Map yang memetakan lima area besar: mind, talking, moving, hands, dan friendliness.

Di usia lima sampai enam bulan, misalnya, buku ini menggambarkan bayi yang mulai menggenggam kubus dengan seluruh telapak tangan, memindahkan botol dari satu tangan ke tangan lain, dan tertawa ketika wajahnya ditutup serbet saat bermain peek-a-boo.

Masuk bulan keenam ke tujuh, ceritanya berganti lagi. Bayi sudah duduk tanpa bantuan, memandangi dunia dari sudut baru, dan mulai mengoceh sendirian hanya karena senang mendengar suaranya sendiri.

Bagian paling menarik justru ada pada konsep Golden Hour of Play. Alih-alih menuntut Parents bermain seharian, buku ini merangkum aktivitas penting ke dalam satu jam yang dibagi seperti jam dinding.

Ada clapping games dengan lagu pat-a-cake, ada permainan menyusun balok kayu yang melatih hand-eye coordination, ada pula aktivitas sederhana bernama “give and take” untuk usia tujuh sampai sembilan bulan.

Aktivitas terakhir ini terdengar remeh: meletakkan mainan di telapak tangan bayi, lalu memintanya kembali dengan lembut. Padahal di situlah benih learning to share pertama kali ditanam.

Yang membuat isinya terasa membumi, hampir semua permainan tidak butuh alat khusus. Cermin, selembar kain, tumpukan foto keluarga, dan suara Moms sendiri sudah lebih dari cukup.

Foto-fotonya besar, warnanya lembut, dan tata letaknya khas DK: rapi, penuh kotak informasi, mudah dibuka acak tanpa perlu membaca dari awal.

Beberapa pembaca menilai gaya bahasanya cukup teknis, terutama saat menjelaskan teori perkembangan. Namun banyak juga yang merasa terbantu karena akhirnya paham kenapa sebuah permainan penting, bukan sekadar tahu cara memainkannya.

Nilai paling berharga dari buku ini bukan soal mencetak anak yang cepat pintar.

Justru sebaliknya, ia mengingatkan bahwa stimulasi terbaik lahir dari interaksi harian yang penuh perhatian, bukan dari mainan mahal atau target usia yang kaku.

Si kecil belajar bahwa suaranya didengar, tangisnya dijawab, dan wajah-wajah yang ia kenal akan selalu kembali.

Untuk Parents, buku ini menawarkan sesuatu yang sama berharganya: rasa percaya diri bahwa bermain bersama anak, sesederhana apa pun bentuknya, sudah merupakan pengasuhan yang bermakna.