Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

Mighty Muddy Us

Oleh: Tim Kiyota Books

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Di hamparan savana Kenya, terdengar suara trompet kecil yang penuh sukacita. “Tah-tra, tah-tra!” Begitulah cara Enid, si gajah kecil, menyambut kelahiran adiknya yang bernama Ely.

Mama Echo merangkul keduanya dengan belalainya yang hangat. Enid sudah membayangkan banyak hal seru yang bisa ia lakukan bersama sang adik kecil.

Namun esok harinya, ada yang berbeda. Kaki Ely terlihat bengkok dan kaku, membuatnya kesulitan untuk berdiri menyusul kawanan yang bergerak mencari air.

Enid pun tak tinggal diam. Ia menyemangati adiknya dengan suara-suara konyol, mengajaknya bangkit pelan-pelan, jatuh, lalu mencoba lagi.

Picture book karya Caron Levis dan ilustrator asal Indonesia Charles Santoso ini terinspirasi dari kisah nyata sebuah keluarga gajah di alam liar. Saat akhirnya kaki Ely berhasil menapak tanah dengan goyah namun penuh tekad, Enid bersorak gembira.

“Don’t worry, Mama. Ely will stick with me!” janji Enid pada ibunya. Adegan matahari terbenam saat Ely berlari kecil di samping Mama Echo terasa begitu mengharukan.

Perjalanan menuju water hole menjadi momen kemenangan pertama mereka. Wobbly, tired, and determined, Ely berhasil mencapai genangan air dengan Enid di sisinya.

Mama Echo memastikan Ely tidak terpeleset, lalu menyiramnya dengan lumpur sejuk. “We are MIGHTY MUDDY US!” serunya. Ely menirukannya dengan suara kecil, “Too-wee, too-wee, too-weeeee!”

Hari berganti hari, Enid menjadi kakak pelindung yang penuh tanggung jawab. Ia menjauhkan Ely dari air dalam, tepi jurang, dan kuda nil yang sedang bad mood.

Semua anggota kawanan memuji Enid sebagai penolong yang istimewa. Tapi diam-diam, Enid kadang merindukan momen berdua saja dengan Mama, merasa sedikit terpinggirkan.

Begitu pula Ely. Pelukan, ciuman, dan perhatian dari para bibi serta sepupu membuatnya merasa hangat, namun terkadang juga ingin sedikit ruang untuk bernapas sendiri.

Konflik kecil khas sibling pun mulai muncul saat keduanya tumbuh. Lalu datang ujian besar berupa kekeringan dan badai debu yang sempat memisahkan Enid dari keluarga.

Panggilan istimewa “Too-wee, too-weeeee” menjadi tanda harapan yang menghubungkan hati mereka kembali. Cerita ini mengajarkan si kecil bahwa setiap anak memiliki kekuatannya masing-masing, terlepas dari keterbatasan fisik yang dimiliki.

Ely menunjukkan arti determinasi, sementara Enid mengajarkan bahwa cinta seorang kakak hadir dalam bentuk dukungan, bukan sekadar perlindungan. Cocok untuk sesi read aloud bersama si kecil yang sedang belajar memahami arti keluarga, ketangguhan, dan kasih sayang antar saudara.