Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

Lunch From Home

Oleh: Tim Kiyota Books

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Hari Senin di sebuah kelas, hampir semua anak membuka kotak bekal berisi sandwich. Hampir semua, kecuali empat anak yang membawa makanan kesayangan dari rumah masing-masing.

Picture book berjudul Lunch From Home karya Joshua David Stein ini mengajak si kecil mengintip meja makan siang Preeti, Mina, Niki, dan Ray. Empat anak dengan latar budaya berbeda, empat cerita yang ternyata terinspirasi dari masa kecil chef sungguhan.

Preeti membuka bekalnya dengan senyum lebar. Ada dhokla cake lembut bertabur rempah vagar dan acar mangga manis pedas, makanan favorit yang dimasak sang ibu di rumah.

Tapi teman di sebelahnya berkomentar, “Yuck, baunya aneh!” Senyum Preeti perlahan memudar. Malam itu, ia meminta sang ibu menggantinya dengan sandwich saja untuk besok.

Hari Selasa giliran Mina yang membawa gimbap, gulungan nasi rapi berisi wortel, lobak, dan ham khas dapur Korea. Reaksi temannya kembali sama, ekspresi jijik dan komentar yang menusuk hati.

Rabu, Niki datang dengan everything bagel berlapis lox, cream cheese, capers, dan tomat segar. Kamis, Ray membawa hot dog burrito berisi sosis cincang dengan telur orak-arik dan keju yang dibungkus tortilla.

Satu per satu, komentar negatif membuat mereka menyerah. Pada hari Jumat, seluruh kotak bekal di kelas itu kompak berisi sandwich. Suasana memang jadi seragam, tapi ada yang hilang dari wajah keempat anak tersebut.

Hingga datanglah hari Selasa berikutnya, ketika Mina berani berkata, “I’m sick of sandwiches.” Kalimat sederhana itu menjadi titik balik yang membuat teman-temannya kembali berani menampilkan makanan asli rumah mereka.

Ilustrasi digital Jing Li memperkaya setiap halaman dengan warna yang segar dan detail kecil yang menyenangkan. Anak bisa melihat rice cooker di dapur Korea, gerabah Talavera di rumah Meksiko, hingga konter pesanan Russ & Daughters yang ikonik.

Buku ini cocok dibacakan saat momen lunch box menjadi pembicaraan di rumah. Parents bisa memakainya untuk membuka diskusi tentang peer pressure dan rasa percaya diri terhadap identitas budaya keluarga.

Si kecil belajar bahwa makanan bukan sekadar pengisi perut, melainkan cerminan cinta dari rumah dan akar budaya yang patut dibanggakan. Pesan empati dan menghargai perbedaan tersampaikan tanpa kesan menggurui, lewat cerita yang relatable bagi anak mana pun yang pernah merasa berbeda di kelasnya.