Lewati ke konten utama
Logo Kiyota BooksKiyota Books

Bedtime Stories for Hard days

Oleh: Tim Kiyota Books•

Cari buku ini atau rekomendasi sejenis?

Cek Ready Stock Kiyota atau chat Admin untuk dibantu pilih buku yang cocok untuk si kecil.

Ada hari-hari ketika si kecil naik ke tempat tidur dengan dada yang masih penuh. Mungkin tadi siang ada pertengkaran dengan teman, ada mainan yang hilang, atau ada rasa kecewa yang belum sempat diucapkan.

Buku ini lahir persis untuk momen seperti itu.

Scott Stuart, penulis di balik My Shadow is Pink dan How to Be a Real Man, menyusun tiga belas puisi pendek berima yang masing-masing punya judul sangat spesifik. Bukan judul cerita, melainkan nama perasaan.

When You’ve Had a Really Tough Day. When You’re Feeling Sad. When You’re Afraid of Being Your Unique Self. Dan masih ada lagi tentang rasa kesepian, rindu pada seseorang, sampai tubuh yang terlalu berenergi hingga sulit terpejam.

Di halaman burung hantu yang terbang bersama anaknya, pembaca diajak menghitung mundur dari sepuluh sambil melepaskan ketegangan di dada. Sederhana, tapi itu teknik pernapasan yang nyata.

Di halaman lain, dua panda merah duduk di dahan menatap bulan. Puisinya mengakui bahwa kegelapan adalah bagian dari hidup, lalu mengajak anak menyebutkan tiga hal yang membuatnya bersyukur malam itu.

Yang paling menyentuh mungkin halaman beruang cokelat yang mengintip bayangannya sendiri di genangan air. Ceritanya tentang anak yang seharian mengecilkan diri supaya tidak menonjol, lalu diingatkan bahwa dunia justru butuh percikan uniknya.

Menariknya, buku ini tidak harus dibaca berurutan.

Banyak Parents memakainya seperti menu. Bacakan judul-judulnya keras-keras, lalu biarkan anak menunjuk mana yang paling terasa hari itu. Anak biasanya senang menemukan perasaannya ternyata punya nama dan punya halaman sendiri.

Perlu dicatat, puisinya cukup panjang dan padat metafora seperti badai, sungai, dan mercusuar. Untuk usia tiga tahunan, sebagian orang tua memilih memangkas beberapa baris atau langsung mengobrol dari ilustrasinya. Untuk anak usia enam tahun ke atas, justru bagian ini yang membuat mereka minta dibacakan berulang.

Nilai terbesar buku ini bukan pada rima yang enak dibaca, melainkan pada satu pesan yang diulang dengan sabar: perasaan sulit itu wajar, boleh dirasakan, lalu boleh dilepaskan sebelum tidur.

Anak belajar emotional regulation tanpa merasa sedang diajari. Ada strategi konkret di dalamnya, mulai dari menghitung mundur, membayangkan hal yang disukai, sampai menyebut rasa syukur.

Dan yang paling penting, buku ini membuka ruang percakapan antara Moms dan si kecil di menit-menit paling jujur dalam sehari, tepat sebelum lampu dimatikan.